Officially S.I.P.
Jumat, 23 Oktober 2020 (8.40AM)
Alhamdulillah aku dinyatakan lulus sidang skripsi dengan hasil yang memuaskan. Jujur di luar ekspektasi bisa memeroleh nilai yang sangat memuaskan karena aku bener-bener enggak ada mikirin atau nargetin harus bisa dapat nilai bagus atau apapun karena ketika aku di-acc sidang aja oleh dosen pembimbing (dosbing), aku udah senengnya MasyaAllah. Dan selama menunggu jadwal sidang keluar bahkan ketika hari H sidangpun aku enggak mikirin nilai sama sekali, yang aku pikirkan adalah bagaimana caranya supaya aku bisa presentasi dengan maksimal. Supaya apa yang aku sampaikan bisa dipahami maksudnya oleh dosen pembimbing dan penguji. Dan semoga aku bisa menjawab pertanyaan dari dosen penguji dengan baik.
Hanya itu yang selalu terlintas di benakku setiap selesai sholat dan minta sama Allah agar diberi kemudahan dalam berpikir, kefasihan dalam berbicara dan ketenangan ketika presentasi. Dan MasyaAllah, Allahuakbar, Allah Maha Baik. Masih banyak kelalaian yang aku lakukan, tapi Allah tetap berikan nikmat yang luar biasa. Terkadang merasa malu sendiri gitu sama Allah, merasa menjadi manusia yang tidak bersyukur. Allah begitu baiknya tapi kadang sholat aja masih sering aku tunda, panggilan-Nya masih sering aku abaikan. Tapi bukan berarti karena malu kepada-Nya menjadi alasan untuk kita semakin jauh dari-Nya kan?. Justru karena masih banyak dosa yang kita lakukan maka tetaplah mendekat kepada-Nya. Supaya Allah juga dekat dengan kita.
Eh kok malah tausiyah sih jadinya😅. Intinya Allah Maha Baik banget.
***
Proses pengerjaan skripsi sampai selesai, bagiku bukanlah sebuah proses yang mudah. It was hard and hurt. Ada banyak hambatan dan tantangan yang kulalui. Tak jarang aku ingin menyerah dengan proses yang sedang kujalani. Jika saat ini orang tanya, "kapan titik terendah dalam hidupmu?" maka aku akan jawab "ketika aku mengerjakan skripsi". Dulu sebelum mengerjakan skripsi, aku pikir titik terendah dalam hidupku adalah ketika aku keluar dari sebuah komunitas yang aku jadikan sebagai tujuan hidup. Sehingga ketika keluar, aku kehilangan tujuan akan hidup yang kujalani. Ternyata ketika sudah mulai mengerjakan skripsi, aku baru sadar itu belum ada apa-apanya. Sesulit apapun aku mencari tujuan hidupku kembali, dijauhi dan bahkan ditinggalkan oleh banyak orang, aku tetap punya harapan untuk hidup. Aku tetap berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Tapi ketika mengerjakan skripsi, aku sampai pada titik dimana aku ingin mengakhiri hidup. Karena aku merasa hidupku hanya menjadi beban untuk orang lain. Tubuhku juga tidak sanggup lagi untuk menahan begitu banyak pressure, judgment, and comparison yang dilayangkan oleh orang-orang terdekatku. Sehingga yang terlintas di benakku saat itu adalah "mati lebih baik daripada menjalani hidup yang seperti ini".
Tapi kemudian aku sadar bahwa mati sebelum waktunya (bunuh diri) adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah. Ketika aku lakukan itu artinya aku menjadi manusia yang sombong, manusia yang tidak tahu rasa bersyukur. Karena banyak orang di luar sana yang berjuang melawan sakitnya untuk tetap bisa hidup, bahkan orang yang sudah matipun menginginkan kesempatan untuk bisa kembali hidup. Lantas aku ingin mati? Betapa tidak bersyukurnya aku akan hidup yang Dia berikan.
Perlahan aku mulai menenangkan diri, berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan keadaan, dan berkata pada diriku sendiri bahwa:
"aku tidak akan melukai diriku hanya karena perkataan dan judgment orang lain terhadap proses yang ku lalui. Diriku jauh lebih berharga dari apapun. Aku tidak akan mengizinkan siapapun melukaiku termasuk diriku sendiri."
Jika kamu tanya "sesulit apa sih Dil emangnya ngerjain skripsi? Kok sampe mau bunuh diri?".
Yang menjadi sulit itu tidak hanya ketika proses penelitian skripsi itu sendiri tapi juga faktor X (atau faktor dari luar) entah itu masalah keluarga, judgment dari orang-orang terhadap skripsi yang kamu jalani, prosesmu dibanding-bandingkan dengan proses orang lain terlebih ketika prosesmu lebih lambat dari orang lain. Sehingga kamu di cap sebagai orang yang malas, gagal, and something like that.
Untuk proses pengerjaan skripsiku sendiri, aku harus melalui penolakan topik sebanyak 7 kali. Walaupun penolakannya dengan bahasa yang baik bahkan bisa dikatakan sangat baik dan sangat sopan. Tapi yang namanya manusia pasti ada ups and downs apalagi ditolak sebanyak itu. Sekalinya topik aku di-acc, justru malah akses untuk melakukan penelitian di tempat itu ditutup. Lantas apakah aku menyerah? Tidak. Aku pindah lokasi penelitian dan berjuang lagi dan ditolak lagi. Di sinilah baru aku mulai merasa malas mengerjakan skripsi. Selain prosesnya yang tidak mudah, aku juga tidak menemukan motivasi yang kuat why do i have to write this thesis selain skripsi emang syarat untuk lulus. Kenapa? Karena aku terbiasa dengan punya alasan yang kuat ketika hendak melakukan sesuatu sehingga saat aku down, aku bisa mengingat kembali that's reason. Tapi sampai sekarang tbh aku tidak menemukan alasan yang kuat dalam mengerjakan skripsi selain itu memang syarat untuk lulus dan mendapatkan gelar sarjana.
Ketika sedang di fase malas itulah aku katakan pada orang yang menanyakan kabar skripsiku bahwa aku sedang malas, aku sedang tidak ada semangat. Aku ingin jujur dengan apa yang aku rasakan. Walaupun mungkin itu menyakiti hati beberapa dari mereka. But I don't want to be a lier, I don't want to be a faker dan aku enggak mau membohongi perasaanku sendiri. But you know what? Bukannya mendapat semangat dan dukungan tapi justru yang aku dapatkan adalah judgment. Seolah setiap hari aku hanya malas. Padahal tanpa orang itu tahu, ketika kukatakan aku sedang malas, bukan berarti aku berhenti mengerjakan skripsi. NO!. I just need to take a break for a while, to rethink what should I do, where should I start, and some plan about my graduation thesis. Even selama break itupun aku tetap memikirkan skripsi. Tidak hanya dipikirkan tapi juga aku mulai untuk membaca berita, artikel atau jurnal untuk menemukan topik baru. Tapi kadang orang hanya menilai dari satu sisi tanpa mencoba memahami sisi lainnya.
Itulah faktor X pertama yang membuat proses skripsiku menjadi sangat menyakitkan. Tidak hanya karena proses skripsi itu sendiri, tapi juga karena mulut orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Melihat orang yang seperti itu membuatku ingin berkata:
"Jika tidak bisa memberikan solusi, semangat dan dukungan, at least jadilah pendengar yang baik. Jika juga tidak bisa maka diam lebih baik daripada membunuh tanpa sengaja."
Why? Kita enggak pernah tau bagian mana dari pembicaraan kita yang diterima oleh seseorang.
***
Intinya dari proses pengerjaan skripsi yang cukup panjang ini, aku belajar banyak hal. Aku belajar tentang arti dari sebuah perjuangan, aku belajar untuk tidak men-judge proses orang lain karena aku enggak pernah tau apa yang orang itu alami. Selain itu aku juga belajar untuk lebih care terhadap orang lain terutama mereka-mereka para pejuang skripsi. Ada saat dimana aku ngomong ke diri sendiri kayak:
"Ketika ada orang yang sedang cerita tentang keluh kesah hidupnya, jadilah pendengar yang baik. Enggak perlu ngasih solusi sekeren apapun. At least dengerin aja mereka cerita itu udah sedikit mengurangi beban di hati mereka. Dan kadang orang yang sedang cerita itu juga cuma butuh didenger kok bukan dikasih solusi."
Selain itu aku juga belajar untuk mengapresiasi sekecil apapun improve yang aku lakukan dan berhenti untuk mengharapkan apresiasi dari orang lain. Karena ujungnya pasti kecewa. Hal yang sama aku coba terapkan ke orang lain yaitu mengapresiasi karya-karya mereka tanpa menjadi fake (intinya aku jadi lebih belajar lagi tentang memperlakukan orang lain seperti apa aku ingin diperlakukan). Enggak perlu apresiasi yang lebay, cukup dengan bilang "terimakasih" itu udah jauh lebih dari cukup and literally the magical word karena bisa merubah hari seseorang menjadi good day. Last but not least yang aku masih berjuang sampe sekarang yaitu deal with JUDGMENT & COMPARISON. One of my closest friends said to me like this:
"yang namanya hidup itu enggak akan pernah lepas dari judgment Dil. Baik buruk yang kita lakukan akan selalu dikomentari oleh orang lain."
And that's true and also thanks Yayay. Tapi berdamai dengan judgment itu enggak mudah dan butuh proses but i do believe that one day i can deal with it.
Comments
Post a Comment